Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Morning Worship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Morning Worship. Tampilkan semua postingan

Morning Worship "17 April 2013"

Written By Unknown on Rabu, 17 April 2013 | 07.30




MAKA MENANGISLAH AKU DENGAN AMAT SEDIHNYA, karena tidak ada seorangpun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya” (Wahyu 5:4).

Kita sering merasa tidak sebanding dengan tokoh-tokoh  besar dalam Alkitab, menganggap bahwa orang-orang seperti Yohanes telah memiliki derajat kerohanian yang jauh lebih tinggi dari kita.  Padahal Alkitab mengundang kita untuk meneladani kehidupan orang-orang tersebut dalam kehidupan kita (Ibr. 6:12).  Misalnya, Paulus, mendorong anggota-anggota jemaatnya untuk meneladaninya (1 Kor. 4:6,7,16; 11:1; 1 Tes. 1:6,7), Walaupun kita seharusnya berlomba-lomba untuk menjadi seperti Yesus (2 Kor. 3:17,18; 1 Kor. 4:17), tetapi kita dapat juga mengambil banyak pelajaran dari mereka.

Dalam ayat hari ini, Yohanes turut serta dalam penglihatannya sendiri.  Membesarkan hati ketika nabi itu menggambarkan dirinya bukan sebagai orang suci yang besar, tetapi sebagai manusia biasa yang melakukan kesalahan dan terkadang bingung dengan situasi yang ada.  Dalam Wahyu 5:4, dia menangis karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di surga.  Dia melihat kejadian itu, tetapi dia tidak mengerti apa-apa.  Seroang dari tua-tua itu bertanya kepadanya dalam Wahyu 7:13,14,dan dia tidak tahu menjawab pertanyaan itu.  Dan kemudian dalam Wahyu 19:9, 10 dan 22:8,9, dia jatuh tersungkur menyembah seorang malaikat, tapi kemudian ditegur karena dia tidak seharusnya melakukan itu.  Rasanya tidak mungkin seorang Yohanes menghadapi kesulitan seperti itu, namun itulah dia apa adanya.  Seorang manusia.

Saya sendiri bisa melakukan kebodohan dalam hidup saya.  Saya teringat ketika di sekolah menengah, sebuah paduan suara universitas datang dan di pimpin oleh seorang yang bergelar doktor musik.  Saya tidak terkesan dengan paduan suara ini.  Jadi setelah penampilan mereka selesai, kepada teman-teman saya jelaskan bahwa orang-orang dengan gelar doktornya biasanya tidak lebih baik daripada mereka yang bergelar lebih rendah.  Di tengah-tengah pembicaraan, saya menoleh ke belakang dan melihat dia berdiri di sana , mendengarkan semua kata-kata saya.  Saat itu, saya merasa benar-benar bodoh!

Kabar baiknya adalah para pembaca dapat merasakan kelemahan dan pergumulan yang dialami Yohanes dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya.  Seperti Elia yang mudah putus asa dan bersedih hati, tetapi dengan perintah Tuhan, dia dapat menghentikan hujan.  Yohanes Pembaptis mempertanyakan apakah Yesus adalah Mesias, tetapi Yesus menyebut dia nabi terbesar (Mat. 11:1-13).  Ayub dan Yeremia adalah “orang suci” yang berharap tidak dilahirkan ke dunia ini (Ay. 3:3; Yer. 20:14,1 5).  “Suatu pengharapan bagi hati kita yang hancur, bahwa melalui kasih karunia Allah, kita memperoleh kuasa untuk bangkit dari sifat jahat;  dan bila kita mengingat hal ini, maka kita pun siap untuk mengalahkan kekurangan-kekurangan kita.”

Tuhan, aku sering sedih dan putus asa, tetapi sekarang aku akan bangkit dan mencoba lagi, dengan pengharapan yang datang dari-Mu.

Morning Worship " 16 April 2013 "

Written By Unknown on Selasa, 16 April 2013 | 07.05



"Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.  Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya : “SIAPAKAH YANG LAYAK MEMBUKA GULUNGAN KITAB ITU dan membuka meterai –meterainya ?’ TETAPI TIDAK SEORANG PUN DI SORGA ATAU DI BUMI ATAU YANG DI BAWAH BUMI, YANG DAPAT MEMBUKA GULUNGAN KITAB ITU atau yang dapat melihat sebelah dalamnya.  Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DIANGGAP LAYAK UNTUK…MELIHAT SEBELAH DALAMNYA” (Wahyu 5:1-4).

Latar Wahyu pasal 5 dibangun dari pasal sebelumnya.  Wahyu 4 menggambarkan kenyataan umum ruang takhta surgawi.  Takhta itu terletak ditengah-tengah ruangan, dan segala sesuatu terjadi berkaitan dengan taktha itu.  Hal utama yang berlangsung adalah penyembahan.  Berulang kali dalam kedua pasal ini, keempat makhluk menyanyi dan semakin banyak penyembah berpadu.  Namun ada perbedaan besar antara pasal 4 dan 5.  Sementara pasal 4 menggambarkan kenyataan umum ruang takhta surgawi, pasal 5 melukiskan waktu yang spesifik.  Suatu krisis terjadi di ruang takhta alam semesta.  Tiba-tiba pujian pemnyembahan terhenti, dan semua menatap ke tengah-tengah ruangan dengan hening, lalu bertanya, “Apakah yang terjadi?”

Apakah masalahnya ? Mereka melihat sebuah gulungan kitab yang tidak dapat dibuka siapa pun juga.  Walaupun pada mulanya ini seperti perkara remeh, keheningan di surga serta Yohanes yang sedih menangis menyatakan ini adalah krisis antara hidup dan mati.  Harus ditemukan seseorang yang dapat membuka gulungan kitab itu.  Semakin memperberat drama ini adalah fakta bahwa gulungan kitab adalah milik Allah sendiri, Dia yang duduk di atas taktha.  Tidak bisakah Allah sendiri yang membukanya ?

Inti adegan ini adalah alam semesta menghadapi masalah besar, begitu besar sehingga Allah sendiri enggan menanganinya.  Alah tentu saja berkuasa mengambil alih kendali seandainya Dia menginginkannya.  Tetapi itu tidak berarti Dia berhak.  Jadi pada akhirnya, hanya Seorang yang “layak” yang bisa menyelesaikan permasalahan itu.

Kata “layak” sebenarnya berasal dari Wahyu 4:11, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima pujia-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu…”  Layak berarti pantas atau cocok untuk suatu tugas.  Disini tugasnya adalah membuka gulungan kitab.  Menjadi Allah saja tidak cukup.  Permasalahan untuk membuka gulungan kitab itu adalah menuntun kualifikasi khusus. Hanya kematian Anak Domba yang membuat-Nya pantas membuka gulungan kitab itu.

Terima kasih Yesus, atas jalan sengsara yang membuat Engkau layak untuk tugas terbesar ini.

Morning Worship "15 April 2013"

Written By Unknown on Senin, 15 April 2013 | 06.39




MAKA AKU MELIHAT DI TANGAN KANAN DIA YANG DUDUK DI ATAS TAKHTA ITU, SEBUAH GULUNGAN KITAB, YANG DITULISI SEBELAH DALAM DAN SEBELAH LUARNYA DAN DI METERAI DENGAN TUJUH METERAI. … Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku : “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, SINGA DARI SUKU YEHUDA, YAITU TUNAS DAUD,  telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu…” (Wahyu 5:1-5).

Banyak terjemahan Alkitab mengatakan bahwa gulungan kitab ada di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta.  Namun penelitian baru-baru ini mengatakan  bahwa frasa “di tangan kanan” mungkin sebenarnya berarti “di sebelah kanan.”  Ini masuk akal dengan mempertimbangkan bagaimana dunia zaman purba memandang takhta.  Orang-orang pada zaman itu biasanya merasa bahwa tempat di sebelah kanan raja adalah tempat paling terhormat.  Mazmur 80:17 dan 110:1 menggambarkan raja Israel duduk di sebelah kanan Allah, dan dia serta Allah bersama-sama memerintah bangsa itu.

Kebanyakan singgasana zaman kuno cukup besar dapat diduduki tiga atau empat orang.  Para pembaca kuno telah dianggap mengerti bahwa gulungan kitab itu diletakkan di atas takhta di sebelah kanan Allah.  Kalau begitu, untuk mengambil gulungan ini berarti seseorang harus duduk di atas takhta, di sebelah kanan Allah.  Dengan kata lain, ketika Yesus mengambil kitab ini dengan tangan-Nya, Dia juga duduk di sebelah kanan Bapa-Nya, menerima peran-Nya sebagai raja yang baru dalam garis keturunan Daud (Why 5:5).

Dalam zaman Perjanjian Lama, Bangsa Israel pernah mengalami situasi tidak memiliki seorang raja, tetapi diperintah langsung oleh Tuhan.   Bangsa ini tidak mempunyai pusat kontrol yang jelas.  Walaupun sebenarnya memiliki seorang raja dapat mengalihkan pandangan bangsa ini dari Tuhan, tetapi dalam praktiknya, tanpa adanya pemerintah dunia, keadaan akan menjadi kacau (Hak. 17:6; 21:25).  Jadi Allah mengizinkan mereka untuk mengadakan system kerajaan dengan Saul dari suku Benyamin sebagai raja pertama dan Daud dari suku Yehuda sesudahnya.  Masa pemerintahan Daud sangat diberkati Tuhan dibandingkan dengan saat Saul memerintah, dan saat Salomo memerintah, pemerintahannya menjadi model pemerintahan yang ideal.

Jadi konsep kerajaan Daud ada di balik kisah dalam Wahyu 5.  Anak Domba itu adalah “Singa Yehuda” dan “Tunas Daud.”  Tidak ada lagi di dalam Perjanjian Baru di mana Yesus duduk di sebelah kanan Bapa-Nya di atas takhta di surga (Mat. 26:64; Ibr. 8:1).  Jadi ketika Yesus datang dan mengambil gulungan kitab itu, Dia sedang mengambil tempat-Nya di atas takhta di Bait Suci surgawi.

Tuhan, ini kabar yang luar biasa.  Dia yang memerintah atas langit dan bumi adalah Anak Domba yang telah disembelih.  Dia tahu seperti apa kehidupanku dan apa yang aku rasakan.  Aku bisa mempercayai Dia untuk memerintah dengan bijaksana, adil, dan penuh kasih.

Morning Worship " 8 Maret 2013"

Written By Unknown on Senin, 08 April 2013 | 05.35



“….Di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada EMPAT MAKHLUK penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang.  Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang, Dan KEEMPAT MAKHLUK ITU masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata” (Wahyu 4:6-8).

Di sini kita dihadapkan dengan kelompok empat “makhluk”, yang pertama dari banyak makhluk aneh dan tidak biasa di dalam Kitab Wahyu.  Makhluk- makhluk ini dipenuhi dengan mata dan masing-masing memiliki enam sayap.  Banyak juga binatang-binatang aneh lainnya dalam Kitab Wahyu.  Semua itu adalah binatang-binatang yang menarik, tetapi tidak akan pernah dijumpai nyata di hutan atau kebun binatang.

Saya teringat pada film kartun popular –The Lion King.  Hewan-hewan dalam cerita film ini melambangkan manusia dan bagaimana mereka saling berhubungan satu sama lain.  Dan pada kenyataannya, The Lion King adalah sebuah perumpamaan Afrika.  Film kartun ini dimulai pada satu dunia yang sempurna, di mana kehidupan berjalan seimbang dan harmonis.  Ketika kekuatan kejahatan menghancurkan dunia itu, namun pada akhirnya tindakan kepahlawanan anak singalah yang mengembalikan keharmonisan dunia.  Sedikit banyak Kitab Wahyu adalah seperti cerita itu.

Banyak penulis buku dan film kartun menggunakan hewan untuk mengilustrasikan bagaimana manusia dan sekelompok manusia berkelakuan.  Karena apabila seorang penulis mencoba menyampaikan sesuatu yang sensitive secara langsung, kita cenderung menolak atau melawan karena merasa diserang.  Itu sebabnya mengapa Kitab Wahyu sangat berkuasa.  Walaupun dituliskan tentang cerita hewan, namun bukan hewan jadi inti pembicaraannya.  Isinya hampair seperti drama kartun tentang bagaimana sekelompok manusia berinteraksi, antara yang baik dan jahat.  Dan bercerita tentang hubungan Tuhan dan umat manusia, dan bagaimana sejarah manusia akan berakhir.

Lalu mengapa kita menganggap Kitab Wahyu adalah buku yang susah dimengerti ? Karena  penulis menuliskan drama dalam Wahyu bukan dalam keadaan abad ke dua puluh satu, tetapi pada keadaan abad pertama , dan dituliskan untuk ketujuh gereja di propinsi Roma di Asia.  Tuhan berbicara dalam bahasa mereka dan menguatkan mereka dalam situasi mereka masing-masing.  Tetapi dalam surat-Nya kepada mereka, Tuhan menciptakan gambaran yang dramatis yang akan terus memberikan inspirasi bagi umat-umat Tuhan selama hampir 2.000 tahun.

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah berbicara kepada kami melalui hal yang dapat kami pelajari dan kami mengerti.  Tolong kami untuk lebih mengerti maksud dan tujuan Tuhan di balik Firman-Mu.

Morning Worship " 5 Maret 2013"

Written By Unknown on Jumat, 05 April 2013 | 08.02




“Segera aku dikuasai Roh dan lihatlah, SEBUAH TAKTHA TERDIRI DI SORGA, dan di takhta itu duduk Seseorang.  Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya” (Wahyu 4:2,3).

Pemandangan seperti apakah yang kita lihat di sini ? Apakah suatu penjelasan umum tentang takhta di surga ataukah penjelasan tentang sesuatu yang terjadi pada suatu waktu tertentu ? Setelah dipelajari dengan berhati-hati ternyata menjadi jelas bagi saya, pasal 4 bukannya menggambarkan suatu kejadian khusus tetapi hanya penjelasan umum tentang ruang takhta surga dan apa yang terjadi di dalamnya secara teratur.

Dalam ayat kita hari ini, tidak disebutkan bahwa takhta itu sedang dibuat, hanya dijelaskan bahwa “sebuah takhta berdiri di surga.”  Ketika Yohanes tiba pada pemandangan itu, taktha itu sudah berada di sana.  Tidak ada hal baru di sana, kecuali nabi itu sekarang sedang mengamatinya.  Pemandangan ini sama seperti yang terjadi pada Daniel 7, tetapi dengan sebuah perbedaan.  Daniel 7 menggambarkan takhta itu “telah diletakkan” (Dan 7:9).  Bagian ini menjelaskan kejadian yang spesifik.  Tetapi lain halnya dengan Wahyu 4.

Secara umum pemandangan ini, bahkan tampak lebih jelas dalam Wahyu 4:9.  Di sana dikatakan “setiap kali makhluk-mahhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya.”  Dalam tata Bahasa Yunani, “setiap kali makhluk-makhluk itu….tersungkurlah ke dua puluh empat tua-tua itu…” menunjukkan kegiatan yang berulang, terjadi berkali-kali dan oleh sebab itu bukan menggambarkan sesuatu kejadian dalam waktu tertentu atau merujuk pada peristiwa yang terjadi di bumi atau di surga.

Kita bisa melatih diri untuk lebih suka memperhatikan Alkitab sehingga pengertian yang seperti ini dapat bermunculan di mana saja.  Hal ini mengingatkan saya ketika mengambil kelas fotografi.  Tugas pertama kami adalah mengambil foto pohon sebanyak-banyaknya.  Pohon yang berdiri sendiri, beberapa pohon berdekatan, hutan, cabang pohon, ranting pohon, bunga di pohon.  Guru kami berkata, “Habiskan satu rol foto hanya untuk mengambil foto pohon-pohon saja dengan segala bentuknya.  Tujuan tugas ini adalah untuk mengajar bagaimana mengamati lingkungan sehingga menyadari hal-hal yang tidak diperhatikan sebelumnya.”  Mempelajari Alkitab juga memiliki efek yang sama.  Kita akan semakin menyadari kehendak Tuhan dan jalan-jalan-Nya, dan sebagai hasilnya hidup kita tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

Tuhan, tolong berikan aku mata yang baru, supaya aku dapat melihat Firman-Mu dalam cara yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya, cara yang sama seperti Engkau maksudkan.

Morning Worship " 4 Maret 2013 "

Written By Unknown on Kamis, 04 April 2013 | 08.19




"Segera aku dikuasai Roh dan lihatlah, SEBUAH TAKHTA TERDIRI DI SORGA, dan di takhta itu duduk Seseorang" (Wahyu 4:2).

Salah satu hal pokok dalam setiap kunjungan ke Istanbul, Turki, adalah kesempatan berjalan mengelilingi Istana Topkapi, istana sultan yang terkenal terletak di sebuah bukit memandang ke arah Bosporus dan Tanduk Emas.  Saya khususnya sangat menyenangi sebuah kunjungan ke istana museum di mana harta benda sultan dipamerkan.  Satu bagian yang tak terlupakan adalah ketika melihat takhta sultan diperlihatkan.  Saya belum pernah melihat takhta sebelumnya, dan yang satu ini mengejutkan saya.  Bentuknya kira-kira seperti tempat duduk yang besar, tinggi, dengan bantalan yang nyaman.

Biasanya takhta berbentuk seperti kursi biasa dengan sandaran tangan, tetapi takhta yang saya lihat bentuknya lebih luas.  Lalu saya teringat ayat ini: "Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya"  (Why. 3:21).  Melihat gambaran ini sudah pasti takhta Allah tidak hanya selebar kursi biasa, tapi besar dan luas.  Yesus telah menerima segalanya yang dilambangkan takhta itu, dan menawarkan takhta itu bagi mereka yang menang dalam pertandingan iman.

Kalau kita baca Wahyu 4 dengan hati-hati, kita menemukan bahwa "takhta" adalah kata kunci di seluruh pasal.  Kata ini muncul sebanyak 12 kali dalam pasal ini, dan pusat serta fokus segala peristiwa.  Segala sesuatu yang terjadi di ruang takhta surga ternyata selalu berhubungan dengan takhta.  Serangkaian kata depan menandakan berbagai tindakan.  Hal-hal yang terjadi "seputar" takhta, "di atas" takhta, "keluar dari" takhta, "di hadapan" takhta, "di tengah-tengah" takhta, dan "di sebelah kanan" takhta. Sebagai kata kunci dari pasal ini, takhta mewakili tema sentral segala sesuatu yang terjadi di dalamnya.

Sebenarnya apakah takhta itu, dan apakah yang dilambangkannya? Sebuah takhta menunjukkan hak untuk memerintah.  Orang yang duduk di atas takhta memiliki otoritas untuk memerintah sebuah daerah, sebuah bangsa, atau apa pun yang terdiri dari sekelompok orang.  Karena takhta terletak di tengah-tengah, maka isu kunci dari pasal ini ialah bahwa Tuhan memiliki hak untuk memerintah dan otoritas itu berlaku di surga. Kitab Wahyu sering menghubungkan kata "takhta" dengan Allah.  Hal itu juga dapat diaplikasikan kepada Setan dan para pengikutnya (Why. 2:13; 13:2).  Karena takhta berada di tengah, maka pasal ini menuliskan suatu perkembangan yang menentukan dalam konflik antara Tuhan dan Setan, yang memperebutkan alam semesta.  Wahyu 4 dan 5 menggambarkan suatu peristiwa yang penting sekali dalam perang, sehingga kematian Anak Domba Allah akan menghasilkan pujian bagi Tuhan.

Tuhan, aku percaya bahwa Engkau memiliki hak untuk memerintah hidupku tiap hari.  Biarlah kiranya keputusanku dan tindakanku hari ini setuju dengan kehendak Allah dalam hidupku.

Morning Worship "3 Maret 2013"

Written By Unknown on Rabu, 03 April 2013 | 07.42



"Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yan telah kudengar berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu APA YANG HARUS TERJADI SESUDAH INI" (Wahyu 4:1).

Setelah menuliskan ketujuh surat kepada ketujuh gereja, Yohanes melanjutkan memaparkan sebuah suara yang mengundang dia untuk mengamati sebuah pemandangan surga.  Mulai dari sini fokus utama terletak pada hal-hal yang terjadi di masa depan dari sudut pandang Yohanes (kemungkinan 95 M).  Mengapa menulis sebuah buku tentang masa depan? Karena Allah ingin kita tahu bahwa kita dapat memercayai-Nya untuk membawa kita kepada tujuan akhir kita.

Di tahun 1992 saya bersama keluarga besar saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Disneyland di California selatan.  Ketakutan terbesar saya dalam acara seperti itu adalah apabila grup yang besar ini akan terpisah.  Saya sangat khawatir terutama dengan anak-anak saya, karena pada saat itu mereka masing-masing berumur 10, 6, dan 4 tahun.  Saya menjelaskan kepada mereka, kalau seandainya mereka "hilang," yang harus mereka lakukan adalah berdiri diam di tempat dan menunggu kami datang menemukan mereka .  Kalau setelah kira-kira satu jam atau lebih tidak ada yang datang, rencana kedua yang dilakukan adalah pergi ke pintu keluar dan menunggu di sana.

Semua berjalan lancar sampai pukul 9:30 malam.  Setelah parade elektrikal selesai, terjadi kekacauan dan kami kehilangan anak perempuan kami yang berumur 10 tahun di dekat kastil di tengah-tengah taman.  Segera saya mengatakan kepada semua orang untuk menunggu sementara saya masuk kembali ke dalam untuk mencari dia.  Saya pergi ke tempat kami berdiri pada waktu parade berlangsung.  Saya mulai panik, ketika saya tidak menemukan dia di area itu. Lalu saya pergi di pintu utama, juga tidak melihat dia.  Tetapi saya melihat ada satu tempat yang agak gelap di dekat situ dan saya memutuskan untuk mencoba melihat ke sana.  Baru saja saya beranjak menuju tempat itu, saya mendengar suara kecil memanggil, "Ayah?"  Kepala saya menoleh  seketika dan melihat dia sedang duduk di atas sebuah bangku.  Dengan sukacita yang tidak terlukiskan saya memeluk dia.  Tidak ada satu kata omelan pun yang keluar dari mulut saya.

Ternyata dia lupa untuk berdiri diam di tempatnya, dan malahan pergi langsung ke rencana kedua, sehingga mengakibatkan kesedihan bagi keluarganya.  Tetapi kami berbahagia karena pada akhirnya semua baik-baik saja.  Tuhan memberikan Kitab Wahyu kepada kita, supaya kita tidak mengalami kesedihan yang sama.  Sementara masa depan mulai dibukakan, dengan mengingat semua petunjuk yang ada di dalamnya, kita tidak akan hilang.

Tuhan, terima kasih telah menyediakan kepada kami petunjuk yang sangat.  Berikan kami telinga yang suka mendengar dan hati yang mau mengerti.

Morning Worship "2 April 2013"

Written By Unknown on Selasa, 02 April 2013 | 08.18


“KEMUDIAN DARI PADA ITU AKU MELIHAT : Sesunggunya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dhulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya : Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini.” (Wahyu 4:1).

Kita tiba pada bagian Kitab Wahyu yang menimbulkan kesulitan bagi para penerjemah, lebih daripada bagian-bagian lain, yaitu mengenai meterai dan sangkakala.  Para penafsir tidak sepaham ketika harus menghadapi begitu banyak bagian ayat di dalam Wahyu 4-11.  Adalah sangat penting untuk membuat satu interpretasi yang lengkap, bukan yang berdasarkan perasaan, atau pemikiran yang disambungkan pada kejadian saat ini, tetapi yang berdasarkan apa yang tertulis.  Satu-satunya cara yang aman untuk menafsirkannya, menuliskan pasal ini.  Ketika kita mengerti latar belakang tulisan tersebut, barulah kita dapat menariknya untuk diaplikasikan pada zaman kita saat ini.

Dari tahun 1986 hingga 1992 saya bertemu dengan Komite Daniel dan Wahyu di General Conference.  Itu adalah pengalaman yang sangat menarik dan kaya, saling bertukar ide dengan 20-25 sarjana Alkitab terkemuka dari seluruh dunia perihal isu-isu yang berkaitan dengan Kitab Wahyu.  Dalam waktu tiga tahun, kami mendengarkan enam buah penjelasan yang berbeda  tentang Wahyu 4 dan 5.  Masing-masing ditulis oleh ahli Alkitab yang berpengalaman, menjabarkan kedua pasal ini dari sudut pandang tertentu.  Akan tetapi komite memutuskan untuk menolak seluruh penjelasan.

Sudah sering saya membaca teks bahasa Yunani dari Wahyu 4 dan 5.  Tiba-tiba saya tersadar : Tidak satu pun dari kata-kata kunci yang semestinya bisa mendukung keenam makalah tersebut ada dalamnya.  Para sarjana telah bisa menawarkan “kesan” tentang apa yang menurut mereka sedang berlangsung, tetapi bahasa spesifik untuk menyokong gagasan mereka tidak ada di situ ! Setelah membaca dan membaca ulang ayat tersebut, saya tiba pada kesimpulan yang sangat berbeda berkenaan dengan pesan dan tujuannya dibandingkan penulis-penulis lain.

Opini kita tentang Alkitab bukanlah terpenting.  Yang vital adalah tujuan Allah melalui penulis dan metode dengan mana kita menemukan tujuan tersebut.  Kita perlu mulai dengan berkomitmen pada Firman Allah, tidak peduli opini apa yang mungkin kita bawa ke dalam studi kita.  Lalu kita harus mengamati dengan cermat kata-kata dalam konteks, dan membiarkan setiap kata mendapat tempatnya sendiri di dalam menyingkapkan pesan yang Allah ingin agar kita lihat.  Satu-satunya kebenaran yang penting adalah kebenaran sesuai yang Dia maksudkan.

Tuhan, aku bertobat setiap kali aku datang kepada Firman-Mu untuk menegaskan kembali apa yang telah aku pikirkan.  Bantu aku untuk bersedia menerima hikmat-Mu dengan persyaratan-Mu.

Morning Worship "1 April 2013"

Written By Unknown on Senin, 01 April 2013 | 08.40




KEMUDIAN DARI PADA ITU AKU MELIHAT : Sesunnguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya : Naiklah kemari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini” (Wahyu 4:1).

Pemandangan Wahyu 4 dan 5 adalahsatu yang paling dramatis dalam Alkitab.  Bahkan lebih luar biasa dalam bahasa aslinya dibandingkan dalam terjemahannya. Saya belum pernah membaca ayat ini dalam Bahasa Yunani tanpa air mata menggenangi mata karena suatu penggambaran yang luar biasa menggetarkan pikiran saya, ketika saya membayangkan  bagaimana rasanya beribadah di surga.  Adegan dimulai dengan perlahan-lahan, tetapi kemudian makin lama semakin keras, hingga seluruh alam semesta bersatu dalam paduan suara besar menggemakan pujian kepada Anak Domba serta Dia yang duduk di atas takhta (Why. 5: 11-14).  Adegan berakhir saat keempat mahkluk mengucapkan kata “Amin” yang diikuti oleh keheningan yang sunyi- senyap.

Bahaya yang dihadapi para pembaca saat membaca ayat seperti Wahyu 4 dan 5 adalah kecenderungan untuk terlalu terfokus pada detail-detailnya  sehingga melewatkan tujuan utamanya.  Tujuannya adalah menggambarkan kebesaran ruang takhta surgawi, kebesaran Allah, dan dengan demikian, kebesaran Anak Domba yang telah tersembelih.  Pada takhta Allah seluruh kekuasaan dan  kemuliaan dunia terlihat seperti debu.  Ketika kita dapat melihat sekilas pintu gerbang surga yang terbuka, sangat tidak dimengerti mengapa kita takut kepada kekuatan dunia atau bahkan kepada seseorang khususnya.  Pasal ini mengundang kita untuk membuang semua intimidasi dunia ke dalam bayangan kekuasaan Allah yang lebih besar dan lebih mulia, dan mengakui Allah sebagia yang layak untuk disembah.  Bila kita sungguh mengenal Allah, kita akan mengerti apa sebenarnya arti sebuah peribadatan sejati itu.

Itulah pesan yang perlu saya dengar.  Sering saya membiarkan manusia lain menjauhkan jalan saya dari jalan yang Tuhan igin agar saya tempuh.  Seorang atasan pernah menggunakan suatu teknik pemerasan, dengan  maksud saya mengkompromikan integritas saya untuk mempertahankan pekerjaan saya.  Kesempatan lain, pengaruh seorang guru yang saya kagumi membuaat saya mempertanyakan pengajaran-pengajaran Alkitab yang sudah sangat jelas.  Bisakah Anda mengerti mengapa saya bertekuk lutut dalam situasi semacam ini ?  Dapatkah Anda menangkap kekuatan intimidasi serta daya tarik manusia yang begitu sering mengalihkan perhatian kita dari rencana Allah dalam kehidupan kita ?  Dengan mengenang ruang takhta surgawi, kita bisa merespons dalam satu cara : Bertobat, tunduk, dan mengakui Dia Satu-satunya yang pantas disembah.

Tuhan, aku merasa ditegur setiap kali aku mengkompromikan hati nuraniku untuk menyenangkan manusia.  Hari ini aku memilih untuk bertobat dan mengikuti hanya Engkau saja.

Morning Worship "29 Maret 2013"

Written By Unknown on Jumat, 29 Maret 2013 | 12.04



"Barangsiapa Kukasihi, ia KUTEGOR DAN KUHAJAR; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!" (Wahyu 3:19).

Kita hidup di dunia di mana konseling dan psikologi mengajar kita bersikap lemah lembut terhadap orang lain dengan kesadaran bahwa kita mengalami satu penderitaan yang sama.  Sebagai akibatnya, kita memandang perilaku salah orang  lain sebagai suatu penyakit, bukannya dosa.  Dan  memang benar bahwa kita semua hingga tingkatan tertentu telah menjadi korban.  Namun hasil pendekatan ini bisa jadi keengganan untuk mendengar teguran, sekalipun dari mulut Yesus sendiri.  Hanya sedikit orang ingin mendengar Allah berbicara keras kepada kita.  Faktanya Yesus menegur mereka yang Dia kasihi, dan seringkali dengan keras.  Konfrontasi yang sejati dapat menghindarkan banyak sakit hati.

Pasukan Angkatan Darat Jerman sedang menapaki bukit.  Di bawah mereka terbentang Sungai Rhine, penuh dengan bongkahan salju yang mencair.  Bahkan pada jarak ini pun, kehadiran Jerman sudah melanggar Perjanjian Versailles 1918.  Menaiki menara tank, sang komandan menghentikan barisan dan menatap ke kejauhan.  Meriam-meriam Perancis di sisi seberang tetap bungkam.  Barisan bergerak perlahan, mendengarkan bunyi artileri pertama.  Tank-tank mengarungi batas air dan menyebar tanpa insiden.  Tidak bersedia mengawali peperangan, pihak Perancis tidak berbuat apa-apa.  Bertahun-tahun kemudian, setelah perang berakhir, barulah pihak Sekutu mendapati adanya perintah rahasia dari Hitler agar pasukannya menyeberangi Sungai Rhine pada pagi hari di bulan Maret 1936 itu.  Dia memberitahu mereka, bila melihat tanda-tanda perlawanan Perancis dimulai, mereka harus mundur.

Kita tidak pernah tahu pasti, tetapi mungkin kemanusiaan akan dapat mengubah jalannya Perang Dunia II seandainya hari itu Perancis memberikan perlawanan.  Seandainya reputasi Hitler tercoreng, para jenderalnya mungkin tidak begitu kooperatif dengannya.  Jutaan nyawa mungkin dapat terselamatkan seandainya Hitler mendapati di tahun 1936 itu negara-negara lain akan menuntutnya bertanggung jawab atas pelanggaran perdamaian.

Para pemimpin Sekutu takut terhadap konflik bersenjata, tetapi mereka gagal untuk menghindarinya. Dan tidak adanya tindakan di pihak mereka menjadikan keadaan menjadi lebih buruk. Ketika itu baik orang-orang Jerman maupun para pemimpin angkatan bersenjata mereka, sebenarnya tidak ada yang siap untuk berperang.  Perlawanan akan memaksa Hitler mundur.  Pihak Sekutu terlalu takut untuk memeranginya, memberi Hitler peluang untuk menambah angkatan bersenjatanya.  Saat perang benar-benar pecah, kekuatan Hitler sudah jauh lebih kuat, dan dia sanggup memulai peperangan pada waktu yang dipilihnya.  Di sini kita bisa melihat, bahwa menunda konfrontasi hanya akan membuat konflik bertambah parah.

Tuhan, terima kasih ketika Engkau menegur aku melalui Firman-Mu.

Morning Worship "28 Maret 2013"

Written By Unknown on Kamis, 28 Maret 2013 | 07.17



"Barangsiapa Kukasihi, ia KUTEGOR DAN KUHAJAR; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!" (Wahyu 3:19).
Kita hidup di dunia di mana konseling dan psikologi mengajar kita bersikap lemah lembut terhadap orang lain dengan kesadaran bahwa kita mengalami satu penderitaan yang sama.  Sebagai akibatnya, kita memandang perilaku salah orang  lain sebagai suatu penyakit, bukannya dosa.  Dan  memang benar bahwa kita semua hingga tingkatan tertentu telah menjadi korban.  Namun hasil pendekatan ini bisa jadi keengganan untuk mendengar teguran, sekalipun dari mulut Yesus sendiri.  Hanya sedikit orang ingin mendengar Allah berbicara keras kepada kita.  Faktanya Yesus menegur mereka yang Dia kasihi, dan seringkali dengan keras.  Konfrontasi yang sejati dapat menghindarkan banyak sakit hati.

Pasukan Angkatan Darat Jerman sedang menapaki bukit.  Di bawah mereka terbentang Sungai Rhine, penuh dengan bongkahan salju yang mencair.  Bahkan pada jarak ini pun, kehadiran Jerman sudah melanggar Perjanjian Versailles 1918.  Menaiki menara tank, sang komandan menghentikan barisan dan menatap ke kejauhan.  Meriam-meriam Perancis di sisi seberang tetap bungkam.  Barisan bergerak perlahan, mendengarkan bunyi artileri pertama.  Tank-tank mengarungi batas air dan menyebar tanpa insiden.  Tidak bersedia mengawali peperangan, pihak Perancis tidak berbuat apa-apa.  Bertahun-tahun kemudian, setelah perang berakhir, barulah pihak Sekutu mendapati adanya perintah rahasia dari Hitler agar pasukannya menyeberangi Sungai Rhine pada pagi hari di bulan Maret 1936 itu.  Dia memberitahu mereka, bila melihat tanda-tanda perlawanan Perancis dimulai, mereka harus mundur.

Kita tidak pernah tahu pasti, tetapi mungkin kemanusiaan akan dapat mengubah jalannya Perang Dunia II seandainya hari itu Perancis memberikan perlawanan.  Seandainya reputasi Hitler tercoreng, para jenderalnya mungkin tidak begitu kooperatif dengannya.  Jutaan nyawa mungkin dapat terselamatkan seandainya Hitler mendapati di tahun 1936 itu negara-negara lain akan menuntutnya bertanggung jawab atas pelanggaran perdamaian.

Para pemimpin Sekutu takut terhadap konflik bersenjata, tetapi mereka gagal untuk menghindarinya. Dan tidak adanya tindakan di pihak mereka menjadikan keadaan menjadi lebih buruk. Ketika itu baik orang-orang Jerman maupun para pemimpin angkatan bersenjata mereka, sebenarnya tidak ada yang siap untuk berperang.  Perlawanan akan memaksa Hitler mundur.  Pihak Sekutu terlalu takut untuk memeranginya, memberi Hitler peluang untuk menambah angkatan bersenjatanya.  Saat perang benar-benar pecah, kekuatan Hitler sudah jauh lebih kuat, dan dia sanggup memulai peperangan pada waktu yang dipilihnya.  Di sini kita bisa melihat, bahwa menunda konfrontasi hanya akan membuat konflik bertambah parah.

Tuhan, terima kasih ketika Engkau menegur aku melalui Firman-Mu.

Morning Worship "27 Maret 2013"

Written By Unknown on Rabu, 27 Maret 2013 | 07.48



“Maka Aku menasehatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga PAKAIAN putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan KETELANJANGANMU YANG MEMALUKAN; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat MELIHAT” (Wahyu 3:18).

Meskipun pekabaran kepada ketujuh jemaat memiliki nilai universal, Yesus tentu saja menyapa jemaat abad pertama serta kondisinya melalui hamba-Nya Yohanes.  Tapi Jemaat Laodikia tak menerima nasihat yang disampaikan.

Setelah melewati saluran-saluran air kuno, bus akan menurunkan Anda di dasar gundukan, yang puncaknya ternyata ladang seorang petani.  Saat Anda berjalan melintasi ladang, Anda akan melihat ke bawah dan menatap dengan perasaan takjub, Anda pun sadar bahwa sebuah kota besar berada di bawah tanah.  Selanjutnya, orang bisa melihat sisa-sisa tempat pemandian umum serta struktur lain mencuat dari dalam tanah.  Laodikia telah ditinggalkan lebih dari 1.500 tahun ! Betul, jemaat di Laodikia benar-benar telah dimuntahkan dari mulut Yesus (Why. 3:16), karena dia tidak ada lagi.

Dalam pengertian lain yang lebih mendalam, Laodikia masih tetap bertahan.  Penulis Kitab Wahyu tampaknya mengaitkan jemaat ini dengan umat Allah pada zaman akhir ini, yang menghadapi peperangan terakhir dalam sejarah bumi ini, Harmagedon.  Anda lihat, nasihat Yesus yang ditawarkan kepada Laodikia di dalam ayat kita hari ini menggemakan nasihat yang di berikan kepada mereka yang sedang menghadapi Harmagedon (Why 16:15).  Dua ayat mengandung empat kata bahasa Yunani: “Pakaian,” “memalukan,” “ketelanjangan” serta bentuk kata kerja dari melihat.  Tidak ada ayat lain dalam Alkitab memiliki perpaduan kata-kata yang sama.

Perhatikan Wahyu 16:15: “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri.  Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.”  Kata-kata untuk pakaian dan telanjang sudah jelas, bahkan dalam terjemahan.  Kata yang diterjemahkan kelihatan kemaluannya mewakili dua kata bahasa Yunani untuk “melihat” dan “kemaluan.”  Saat Allah berseru kepada generasi terakhir di bumi ini, Dia menggunakan bahasa Laodikia ! Walaupun Kota Laodikia sudah mati, sesuatu tentang dia masih ada terus hingga zaman akhir.

Jadi dalam pengertian tertentu, pekabaran kepada Laodikia mewakili para pengikut Yesus yang mengalami krisis terakhir dari sejarah bumi ini.  Allah memanggil mereka yang tersisa untuk menerima nasihat yang ditujukan kepada Laodikia dan untuk berperang erat-erat pada kekayaan sejati yang Allah tawarkan.  Pekabaran kepada jemaat Laodikia, dalam pengertian khusus, juga ditujukan kepada kita.

Tuhan, aku membutuhkan jubah kebenaranmu hari ini.  Beri aku visi yang jelas untuk membedakan yang baik dengan yang jahat dalam apa pun juga yang menimpaku.

Morning Worship " 26 Maret 2013"

Written By Unknown on Selasa, 26 Maret 2013 | 07.23


"AKU MENASIHATKAN ENGKAU, SUPAYA ENGKAU MEMBELI DARI PADAKU EMAS YANG TELAH DIMURNIKAN DALAM API, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat" (Wahyu 3:18).

Emas yang telah dimurnikan dalam api melambangkan jenis iman yang bertahan hingga pada kesudahannya.  Saya percaya iman seperti itu pada dasarnya karunia dari Allah, tetapi ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkannya.

Ketika saya mengejar gelar doktor, dalam satu diskusi dengan seorang kolega, membuat saya benar-benar syok.  Dia telah bekerja selama bertahun-tahun sebagai pendeta di luar Amerika Utara.  Dia bercerita pada saya bahwa di tempat asalnya, topik diskusi nomor satu di antara para hamba Tuhan adalah apakah Allah eksis atau tidak!  Sungguh perlu mempertahankan kehidupan bersama dengan Tuhan, dan di zaman teknologi yang sangat sekular ini bukanlah perkara mudah.  Kita hidup di zaman krisis rohani.

Di dunia Barat, krisis rohani ini terutama melanda mereka yang tumbuh dewasa dalam pergolakan tahun 1960-an.  Banyak hal yang dulunya diturunkan sebagai sebuah kepastian, terbukti menjadi fakta yang perlu dipertanyakan.  Beberapa hal yang diajarkan sebagai "kebenaran Allah" agaknya lebih ditujukan agar orang-orang tetap pada kekuasaannya.  Akibatnya, generasi saya merasa dikhianati dan cenderung mempertanyakan segala sesuatunya.

Diperkenalkannya teknologi komputer dan internet secara fundamental telah mengubah cara orang-orang berpikir dan berlogika.  Kecepatan serta kompleksitas kehidupan ini bertambah secara pesat. Tampaknya tidak ada lagi yang stabil.  Pekerjaan-pekerjaan mengalami perampingan, begitu gaji Anda sudah lumayan.  Di mana Anda tinggal lebih merupakan suatu kebetulan daripada niat.  Sebagai akibatnya, keluara-keluarga besar mendapati diri mereka terpecah-belah.

Di masa-masa penuh tantangan ini kita perlu secara sadar dan sengaja mengembangkan hubungan dengan Allah.  Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membicarakannya.  Sering-seringlah membicarakannya dalam berbagai konteks.  Iman akan diperkuat saat Anda membagikannya.  Mengutip perkataan Ellen White: "Semakin Anda membicarakan iman, semakin besar iman yang Anda peroleh.  Luangkan waktu untuk bersama orang-orang yang dipenuhi iman.  Setiap hari ingatkan diri Anda untuk menerima emas yang Yesus tawarkan dan izinkan situasi hidup ini menyepuh emas tersebut hingga menjadi kilau yang bertahan lama.

Tuhan, di tengah kesibukan sehari-hari begitu mudah untuk hidup dari jam ke jam tanpa kebergantungan kepada-Mu. Aku ingin meletakkan Engkau di pusat perhatianku hari ini.  Tumbuhkanlah imanku.

Morning Worship " 25 Maret 2013"

Written By Unknown on Senin, 25 Maret 2013 | 08.37


“Karena engkau berkata : Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa ENGKAU MELARAT, DAN MALANG, MISKIN, BUTA DAN TELANJANG” (Wahyu 3:17).
Pernahkah Anda bertemu seseorang yang mengurus anjingnya jauh lebih baik ketimbang mereka mengurus anak-anak mereka ? Anjing-anjing tidak pernah dimarahi, tidak pernah kelaparan, dan menerima perhatian siang maupun malam hari.  Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar.  Seorang teman saya mengamati situasi semacam itu : “Saya tidak percaya dengan reinkarnasi, tapi seandainya ya, saya ingin terlahir kembali menjadi salah satu anjing-anjingnya Pat!” Anjing-anjing diperlakukan sedemikian rupa sehinga merasa istimewa dan menyombongkan diri dengan berasumsi bahwa mereka sepantasnya diperlakukan demikian.
Jemaat di Laodikia juga seperti anjing-anjing yang dimanjakan.  Mereka berasumsi bahwa kemakmuran serta kemudahan yang mereka nikmati merupakan hak yang sudah sepatutnya mereka nikmati.  Sebagai akibatnya, mereka nyaris tidak merasakan bahwa dosa telah menurunkan derajat kita hingga kepada kemelaratan batiniah dan bahwa kekayaan luar hanyalah kedok.  Namun demikian, mereka yang teraniaya dan diperlakukan tidak baik di dunia ini sangat merasakan kondisi menyedihkan yang disembunyikan Jemaat Laodikia dari diri mereka sendiri.  Mereka nyaris tidak bisa mengangkat wajah untuk memandang wajah sesamanya, apalagi berdoa memohon kesembuhan.
Seorang pria paruh baya bekerja di sebuah kantor.  Penganiayaan seksual semasa kecil membuatnya rentan terhadap para predator  seksual di akademi takut terhadap keintiman dan lari berlindung setiap kali seorang wanita lajang mencoba mengajaknya mengobrol.  Orang-orang berpendapat bahwa dia sedikit aneh dan biasanya tidak ingin berurusan dengan luka hatinya.  Akhirnya, seorang pendeta melihat benteng yang dibangunnya dan menginvestasikan waktu berjam-jam dalam persahabatan yang akhirnya membuat rahasia itu terbongkar dan dapat dibereskan.
Jika kita melihat orang-orang dari sudut pandang Yesus, saya pikir kita akan syok menyaksikan kehidupan menyedihkan yang dialami sebagian besar orang.  Jarang sekali yang “diberi makan” oleh Firman Tuhan atau sentuhan lembut orang-orang, kehidupan spiritual mereka tidak ada sama sekali dan di dalam keheningan malam, mereka melihat diri mereka menyedihkan, miskin, buta, dan telanjang.  Jika kita telah disentuh dan diubahkan oleh kasih karunia Allah, maka kita dipanggil untuk pergi dan menjadi penyembuh-penyembuh orang-orang yang terluka ini.  Bukankah seperti itu kehidupan orang-orang Laodikia saat mereka menyadari kebutuhan mereka.
Tuhan, bukakan mataku terhadap mereka yang lemah, entah mereka menyadari kelemahan itu atau tidak.

Morning Worship "22 Maret 2013"

Written By Unknown on Jumat, 22 Maret 2013 | 07.51

 
"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia:  Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, PERMULAAN DARI CIPTAAN ALLAH" (Wahyu 3:14).

Seharusnya "Penguasa dari ciptaan Allah," namun beberapa terjemahan menerjemahkannya "Permulaan dari ciptaan Allah."  Mengapa perbedaannya begitu jauh?  Disebabakan kata Bahasa Yunani yang mendasarinya (arche--dilafalkan sebagai arkay) bersifat ambigu.  Yesus adalah arche  ciptaan Allah.  Arche bisa mengindikasikan "tua" atau "awal mula," sebagaimana di dalam arkeologi, "ilmu yang mempelajari benda-benda kuno.  Tapi bisa juga mengindikasikan pemerintahan--kerajaan yang pertama.  Kata bahasa Inggris "patriarch" berarti "diperintah oleh para bapa," dan "monarchy" yang berarti "diperintah oleh satu."  Jadi kata arche memiliki dua makna.

Dalam bahasa Yunani zaman Perjanjian Lama, arche adalah kata utama pertama di dalam Alkitab--"pada mulanya [en arche] Allah menciptakan."  Jadi Wahyu 3:14 menekankan pada Kejadian 1:1. Yesus datang kepada Jemaat Laodikia sebagai "Penguasa dari ciptaan Allah."  Imbangan dari penguasa sejati dari ciptaan Allah, yaitu Adam (Kej. 1:26-28), Dia adalah Adam "yang baru" atau Adam "kedua" (Rm. 5:1; 1 Kor. 15).

Kisah penciptaan Alkitabiah menggambarkan Adam dalam pengertian tiga relasi mendasar: (1) Adam memiliki hubungan dengan Allah.  Sebagai "gambar Allah" (Kej. 1:26, 27) dia memiliki harga diri yang tinggi, tetapi hubungannya dengan Allah adalah hubungan seorang bawahan dengan atasannya. (2) Gambaran Allah mencakup pria dan wanita (ayat 27).  Allah menciptakan umat manusia untuk berhubungan satu sama lain, tanpa memandang latar belakang etnis. (3) Gambaran Allah juga mencakup kekuasaan atas bumi ini (ayat 26, 28).  Adam memerintah atas segala makhluk di muka bumi ini. 

Ketika Yesus datang ke dunia, Dia adalah Adam Kedua di mana: (1) Dia memiliki hubungan sempurna dengan Allah, menaati semua yang diperintahkan Allah (Yoh. 8:28; 14:28; 15:10). (2) Dia memiliki hubungan sempurna dengan orang-orang lain, hidup penuh pelayanan dalam kerendahan hati dan berkorban diri (Mark. 10:45; Yoh. 13:1-17; Fil. 2:5-7).  (3) Dan Dia memiliki hubungan sempurna dengan bumi dan segala ciptaan.  Binatang-binatang patuh pada perintah-Nya (Yoh. 21:2-11; Mat. 17:24-27; Mark. 11:1-7).  Angin dan ombak tunduk kepada-Nya (Mat. 8:26-27).  Dalam segala hal, Yesus merupakan Adam seperti yang dimaksudkan.

Sebagai Adam Kedua, Yesus mengalami semua yang pernah kita alami.  Seperti Adam yang pertama, kita punya sejarah kegagalan, cacat, dan rasa malu.  Tetapi Yesus sanggup menggantikan sejarah pribadi saya yang bercacat-cela dengan  sejarah-Nya yang sempurna.  Itu memberikan harapan bahwa saya bisa lebih menyerupai Adam Kedua dibandingkan yang pertama.

Tuhan, terima kasih atas sejarah baru yang aku miliki di dalam Yesus Kristus.  Hari ini aku berniat untuk hidup sebagaimana Ia hidup.

Morning Worship " 21 maret 2013"

Written By Unknown on Kamis, 21 Maret 2013 | 07.03



"Dan tuliskanlah kepada malaikat JEMAAT DI LAODIKIA..." (Wahyu 3:14).

Pekabaran kepada Jemaat Laodikia berkaitan erat dengan sejarah serta lingkungan kota tersebut.  Kota itu terkenal untuk persediaan air yang buruk.  Suhunya suam-suam kuku, persediaan air penuh dengan sedimen dan batu gamping.  Air terlalu dingin untuk mandi, namun terlalu hangat untuk bisa menyegarkan tubuh pada hari musim panas yang gerah.  Yeremia memakai istilah makanan busuk untuk mengilustrasikan rasa jijik yang dirasakan Tuhan karena perilaku orang-orangnya (Yer. 24).  Dalam ayat di atas, Yesus memberikan gambaran yang sangat mewakili situasi di Laodikia.
Kota tersebut terkenal karena kemandiriannya.  Kota itu adalah pusat perbankan yang penting pada zaman kaisar Romawi Domitianus.  Laodikia begitu bangga dengan kekayaannya sehingga menolak bantuan kaisar setelah terjadi gempa bumi besar di kota tersebut.  Kota itu juga terkenal karena tekstilnya, terutama kain dan karpet yang ditenun dari wol hitam, yang sangat bertolak belakang dengan pakaian putih yang ditawarkan Yesus.  Kota itu juga merupakan lokasi sekolah kedokteran abad pertama yang mengambil spesialisasi pengobatan menggunakan salep telinga dan mata.
Jadi Kota Laodikia, merupakan tempat yang mandiri yang tidak merasa membutuhkan bantuan dari luar, sekalipun sistem airnya berasal dari luar  dan tidak enak.  Yesus menggunakan sejarah dan lingkungan di Laodikia sebagai ilustrasi tentang kelemahan-kelemahan jemat setempat.
"[Mengapa Allah] melihat satu kondisi yang benar-benar berbeda di bandingkan apa yang dilihat oleh Laodikia sendiri? Alasannya terletak pada fakta bahwa Allah dan Laodikia melihat pada dua hal yang berbeda.  Laodikia memusatkan pandangannya pada perkara-perkara material."
"Laodikia cenderung mengamati pencapaian-pencapaiannya, yang sebenarnya tidak layak diperhitungkan.  Dia mengenang rumah-rumah sakit dan klinik-kliniknya yang didirikan berkat kekayaannya. Dia menyurvei sekolah-sekolah dan universitas-universitas di mana dia berniat untuk membawa orang-orang mudanya ke jalan yang benar.  Dia menghitung percetakannya, yang didirikan untuk membawa pencerahan kepada dunia.  Dia mengingat rumah-rumah ibadahnya, yang didirikan di banyak kota di banyak negeri.  Dia menghitung keanggotaannya, serta menganalisa persembahannya."
"Pemikirannya kembali ke awal mula, dan dengan kebanggaan yang tak kentara dan tanpa disadari kembali ke tahun-tahun pertumbuhan, perkembangan, pencapaiannya.  Sungguh hasil yang luar biasa.  Laodikia berbahagia, puas.  Dia memiliki doktrin yang sempurna, organisasi yang kompeten, pesan yang berkemenangan.  Siapa yang sanggup menyangkal semua ini?" 
Tuhan, kami tidak selalu bisa mengatur di mana kami hidup.  Oleh karena itu tolong aku untuk menolak semua hal di sekelilingku yang dapat menarik aku jauh dari rencana-Mu

Morning Worship "20 Maret 2013"

Written By Unknown on Rabu, 20 Maret 2013 | 07.06

Renungan Pagi  “Kabar Baik Dari Patmos” 20 Maret 2013 

“Barangsiapa menang, IA AKAN KUJADIKAN SOKOGURU DI DALAM BAIT SUCI ALLAHKU, DAN IA TIDAK AKAN KELUAR LAGI DARI SITU; dan padanya akan Kutuliskan nama Allahku, nama kota Allahku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allahku, dan nama-Ku yang baru.  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Wahyu 3:12,13).
Tepat di luar Kota Aswan, Mesir, di tengah-tengah Danau Nasser, terletak sebuah pulau bernama Philae.  Tempat itu dapat dicapai oleh felucca (perahu layar Mesir) atau perahu motor kecil.  Monarki Ptolomeus dari Yunani yang membangun Kuil Philae kurang lebih dua abad sebelum zaman Yesus.  Meskipun para penguasa Yunani itu tidak memuja dewa-dewi Mesir, mereka menghormati budaya Mesir yang agung dan berusaha menyediakan kuil yang merupakan salinan budaya Mesir kuno dan arsitektur Thebes.
Dikarenakan relatif lebih muda dan faktanya bahwa pasir menutupi kuil itu selama beratus-ratus tahun, Philae sekarang ini tetap mengagumkan dibandingkan reruntuhan Karnak serta area di sekitar Lembah Raja-raja.  Atapnya tetap utuh, demikian pula karya seni di dalamnya, mencakup lukisan-lukisan penuh warna-warni yang tetap utuh bahkan setelah 2.200 tahun.
Seperti kuil-kuil Mesir kuno lainnya (dan seperti Bait Allah untuk Yahweh pada zaman Alkitab), seseorang melintasi gerbang yang sangat besar memasuki pelataran luar.  Sebuah gerbang lain terbuka ke dalam struktur kuil itu, dengan kamar-kamar berurutan yang menuju ke kuil bagian dalam yang kecil yang merupakan bagian paling suci dari seluruh kompleks.  Pada setiap tingkatan kesucian, akses menjadi makin terbatas, hingga akhirnya imam pada tingkatan yang paling tinggi yang dapat memasuki kuil sebelah dalam.
Kitab Wahyu penuh dengan kiasan Bait Allah di surga.  Wahyu 4 dan 5 menyinggung tentang kaki dian, dupa, Anak Domba, penyembahan, dan hadirat Allah sendiri.  Wahyu 6:9 berbicara tentang mezbah pengorbanan, dan wahyu 8:3-5 serta 9:13 tentang mezbah pedupaan.  Wahyu 11:19 secara eksplisit menghubungkan tabut perjanjian dengan  bagian dalam tabernakel surgawi.  Bait Allah surgawi disinggung kembali dalam Wahyu 15, hanya kali ini dikosongkan karena kemuliaan Allah berdiam di dalamnya (Why. 15:5-8).  Kitab itu menyatakan bahwa umat Allah melaksanakan kebaktian di hadapan-Nya siang dan malam di dalam Bait-Nya (Why 7:15-17; 22:2-5).
Janji kepada Jemaat Filadelfia mencakup berdiam secara permanen di dalam bagian paling dalam dari Bait Allah surgawi.  Orang-orang Kristen akan selalu berada di hadirat Illahi.  Ini berartti mereka berperan besar dalam pengaturan alam semesta (baca Why 3:21).  Meski lemah dan sering dibenci di dunia ini, hamba-hamba Allah akan ditinggikan di tempat tertinggi yang abadi.
Tuhan, persiapkan aku sekarang untuk peran mulia yang telah Engkau persiapkan bagi semua umat-Mu.

Morning Worship "19 Maret 2013"

Written By Unknown on Selasa, 19 Maret 2013 | 06.50

Renungan Pagi  “Kabar Baik Dari Patmos” 19 Maret 2013

“Barangsiapa menang, IA AKAN KUJADIKAN SOKOGURU DI DALAM BAIT SUCI ALLAHKU, DAN IA TIDAK KELUAR LAGI DARI SITU; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Wahyu 3:12,13).


Karena terlibat kesulitan dengan sinagoge setempat, para anggota jemaat di Filadelfia agaknya mempertanyakan akses mereka dengan Allah.  Surat Illahi menjamin keberlangsungan akses mereka kepada Tuhan di dalam Kristus Yesus.  Yesuslah yang memegang kunci Daud.  Dia yang membukakan pintu surga bagi mereka, dan Dia akan menjadikan mereka sokoguru dalam Bait Allah.  Itu berarti mereka akan senantiasa menjadi bagian dari lingkup Allah.


Akses bisa membuat perbedaan besar di dunia ini.  Saya teringat ketika saya masih mahasiswa seminari, lebih dari 30 tahun yang lalu.  Konferens New York yang mensponsori kami, dan ditambah dengan penghasilan istri saya , itu cukup sehingga kami bisa hidup dengan nyaman, makan cukup, dan bisa membayar uang kuliah.


Kemudian datanglah resesi tahun 1974.  Orang-orang di seluruh wilayah kehilangan pekerjaan mereka.  Suatu hari istri saya baru tahu bahwa pasar petani tempat dia bekerja tidak dapat lagi mempekerjakannya.  Dlaam satu hari kami kehilangan hampir setengah dari pendapatan kami.  Meskipun saya dapat menambah jam kerja saya di perpustakaan tempat saya bekerja paruh waktu, itu hanya sedikit menambah pendapatan kami.


Ini menempatkan saya pada posisi yang dihadapi banyak mahasiswa lain, tetapi sebelumnya saya adalah orang asing.  Saya perlu menemui staf bidang keuangan mahasiswa untuk memohon pinjaman.  Lama saya duduk di ruang tunggu.  Pintu kantor staf keuangan tetap tertutup.  Apa pun juga yang sedang berlangsung di dalam, itu jauh lebih penting daripada saya.


Kira-kira pada saat itu seorang gadis remaja berjalan memasuki ruang tunggu dan menunjuk pintu yang tertutup.  Saat sekertaris menganggukkan kepala, gadis itu berjalan ke arah pintu dan membukanya ! Betapa beraninya ! Sungguh tidak adil ! Lalu katanya dengan suara sedih, “Ayah?” Mendapatkan tanggapan positif, saya kira, dia pun memasuki ruangan.


Apakah perbedaan antara dia dan saya ? Dia punya akses kepada ayahnya, sesuatu yang tidak bisa saya klaim.  Pintu yang tertutup bagi saya, justru terbuka baginya.  Itulah yang terjadi saat Anda mengenal Yesus.  Di dalam Dia kita memiliki akses kepada Bapa.


Tuhan, terima kasih atas akses penuh kepada-Mu di dalam Kristus.  Semoga aku hidup dan bertindak hari ini sebagai orang yang tahu itu dari pengalaman.

Morning Worship " 18 Maret 2013"

Written By Unknown on Senin, 18 Maret 2013 | 06.19

  Renungan Pagi  “Kabar Baik Dari Patmos” 18 Maret 2013 
"Aku datang segera.  PEGANGLAH APA YANG ADA PADAMU, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu" (Wahyu 3:11).

Ketiga anak saya sedang  tumbuh dewasa. Namun mereka semua berbeda-beda.  Misalnya, saat saya membacakan dongeng bagi mereka di malam hari, yang tertua cenderung mengulangi apa yang saya ucapkan, mencoba bercerita lebih baik dibandingkan saya.  Anak yang tengah berusaha naik ke pangkuan saya sehingga dia bisa melihat gambar-gambar.  Yang termuda akan melompat-lompat sekeliling ruangan sambil memerankan bagian-bagian cerita.  Masing-masing anak memprlihatkan gaya belajar yang unik.

Sekarang perbedaan itu terlihat dalam menangani uang.  Yang tertua, putri, senang menabung untuk "masa-masa sulit."  Anak yang lain cenderung menghabiskan setiap dolar begitu mendapatkannya untuk barang-barang yang tahan lama.  Anak ketiga sama cepatnya menghabiskan uang, namun untuk kesenangan jangka pendek, seperti permen, permainan komputer, dan roti stik keju.  Sebagai orangtua, kami memberi nasihat, dan terkadang mengizinkan mereka membuat kesalahan supaya mereka bisa belajar.

Ketika yang tertua berusia kurang lebih 3 tahun, kami mengunjungi pasangan lain yang juga memiliki anak seusianya.  Sebelumnya, si ibu membagikan beberapa kismis pada kedua anak itu.  Saya perhatikan bahwa putri saya melakukan sesuatu dengan satu tangan.  Saat melakukan permainan, dia menggunakan satu tangan saja, tangan yang satunya tak kelihatan.  Bahkan saat makan pun dia tidak mengacak-acak makanan dengan kedua tangannya seperti biasa.  Akhirnya jelas bahwa dia telah mengepalkan tangan yang satunya sehingga dia tidak akan kehilangan apa yang digenggamnya.  Ketika saya memintanya untuk menunjukkan apa yang digenggam di tangannya, dengan malu-malu dia membuka kepalannya untuk memperlihatkan kurang lebih delapan buah kismis.  Karena sangat suka kismis, dia memutuskan untuk menghematnya pada "masa-masa sulit."  Dia memegangi kismisnya seakan-akan seluruh hidupnya bergantung pada itu.

Yesus mendorong jemaat di Filadelfia agar "berpegang erat-erat" pada apa yang mereka miliki.  Mereka harus berpegang pada nilai-nilai tertentu dengan tekad bulat seperti yang dilakukan putri saya dengan kismisnya.  Yesus ingin agar mereka berpegang teguh pada keselamatan mereka (Yoh. 10:29).  Dia ingin agar mereka berpegang teguh pada kesabaran mereka dan tidak melenceng dari rencana Allah bagi hidup mereka.  Dan Yesus ingin agar mereka berpegang teguh pada kekonsistenan mereka menanti Dia dan melakukan yang benar.

Jadi, jangan pernah menyerah! Berpeganglah erat-erat pada apa yang benar-benar berarti.  Yesus akan datang segera.

Tuhan, tolonglah aku mengenali hal-hal penting bagi-Mu dalam kehidupanku.  Aku ingin berpegang pada itu dengan segenap kekuatan yang Kauberikan.

Morning Worship "4 Maret 2013"

Written By Unknown on Senin, 04 Maret 2013 | 09.52

Renungan Pagi  “Kabar Baik Dari Patmos” 04 Maret 2013 

Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, KEPADANYA AKAN KUKARUNIAKAN KUASA ATAS BANGSA-BANGSA.... DAN KEPADANYA AKAN KUKARUNIAKAN BINTANG TIMUR...." (Wahyu 2:26-29).

Apakah yang memotivasi orang-orang untuk merampungkan tugas-tugas yang sulit?  Bagaimanakah sebagian orang bisa bertahan dalam segala macam kesukaran dan kesusahan untuk imbalan yang relatif kecil?  Sebagian orang, misalnya, akan mentoleransi segala jenis kesulitan dan kelelahan demi pemandangan dari puncak gunung.  Yang lainnya bersedia bepergian setengah hari lamanya untuk bisa makan di restoran favorit mereka.  Siswa-siswa akan belajar lima kali lebih keras untuk memperoleh nilai yang baik.

Anak perempuan saya sangat suka berkemah pada musim dingin.  Dia sungguh luar biasa!  Satu kali, dia selama seminggu di luar rumah di Upper Peninsula of Michigan pada bulan Februari!  Dia dan sekitar 17 orang lain menyeret kereta luncur seberat 50 kilogram di tengah salju, tidur di tenda, dan memasak makanan di kompor kecil yang mereka bawa-bawa bersama dengan pakaian, peralatan tidur, lampu senter, dan perlengkapan lainnya.  Pakaian khusus serta perlengkapan untuk perjalanan itu harganya mencapai hampir $1,000!

Salah satu aspek paling menarik saat menyeret kereta luncur melintasi salju adalah panas yang ditimbulkannya!  Walaupun temperatur pada permulaan hari mungkin serendah -18 derajat Fahreinhet, hangatnya matahari musim panas, dipadukan dengan pakaian berkemah, menyebabkan berkeringat. Yang paling didambakan putri saya pada akhir minggu adalah mandi.
Meskipun dia tidak sabar untuk pergi berkemah lagi, suatu hari dia mengeluhkan tentang betapa berat itu---otot-otot yang nyeri, keringat, pendeknya napas.  Saya menanyakan kepadanya apa yang membuatnya pergi berkemah lagi.  "Aku tidak ingin kalah dengan yang lain!"  katanya.  Baginya itu adalah motivasi yang sangat kuat!

Yesus tahu bahwa setiap orang membutuhkan motivasi untuk dapat mengubah arah tujuan mereka atau merampungkan sesuatu yang besar.  Di dalam surat kepada jemaat di Tiatira, Dia memerintahkan agar mereka memfokuskan diri pada pahala.  Akan datang harinya di man Yesus akan mengaruniakan kepada mereka pemerintahan atas negeri.  Sebagai raja-raja dan imam-imam di surga, mereka akan memiliki otoritas seperti halnya Dia. Yesus juga akan mengaruniakan kepada mereka bintang timur.  Wahyu 22:16 mengatakan kepada kita bahwa Yesus adalah Bintang Timur---bahwa Dia akan mengaruniakan kepada mereka diri-Nya sendiri.  Jadi motivasi yang utama adalah hubungan yang erat dengan Yesus.

Tuhan, tolong aku untuk memfokuskan diri pada pahala.  Aku bisa melakukan hal-hal yang luar biasa saat aku tahu bahwa Engkau besertaku.
 
Support : Wisma Jaya Bekasi
Copyright © 2011. Buletin GMAHK Wisma Jaya - All Rights Reserved
Support : DepKomWJ